
KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Bupati Sanggau, Yohanes Ontot menilai anjloknya harga sawit lantaran respon terhadap kebijakan Presiden Prabowo yang menetapkan PT. Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal kelapa sawit.
“Kita masih menunggu kebijakan ini bisa normal. Biasalah sebuah kebijakan yang sifatnya terlalu tidak biasa, orang agak terkejut. Mungkin bisa normal ketika lembaga ini bisa berjalan dengan baik. Dan lembaga itu bisa sesegara mungkin menyesuaikan kebijakan yang dikeluarkan presiden,” kata Yohanes Ontot kepada awak media, Jumat (29/05/2026).
Ia mengatakan harga tandan buah segar (TBS) secara umum di Sanggau masih di atas Rp2000 per kilogram. Sebelum dikeluarkan kebijakan ekspor satu pintu, harga TBS di Sanggau rata-rata di atas Rp3000 per kilogramnya.
“Ini kan akibat penertiban satu pintu ekspor sawit. Jadi ndak lagi orang macam-macam. Presiden menunjuk sebuah badan yang khusus mengurus ekspor ini. Jadi ndak lagi kemana-mana nanti. Bahkan ada yang ndak membayar pajak. Kita setuju itu,” ujarnya.
Soal keluhan mahalnya harga pupuk di tengah anjloknya harga TBS, Ontot menilai hal tersebut masih terkait kebijakan pemerintah.
“Ini kan kaitannya saya bilang, kebijakan secara global berpengaruh pada regional. Karena geopolitik ini sangat berpengaruh besar terhadap politik ekonomi, keuangan. Kalau kita dengar sekarang kurs sampai Rp 17 ribu lebih per dolar,” pungkasnya. (Ram)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya