Kamis , 29 Oktober 2026
Home / NEWS / Usai Karhutla, Waspada Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Usai Karhutla, Waspada Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Foto—Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sanggau, Didit Richardi

 

KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Meski bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mereda seiring penanganan dan curah hujan, bukan berarti bencana berhenti. Ada bencana lain yang masih mengintai yang harus diwaspadai.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Sanggau, Didit Richardi mengatakan, ke depan yang harus menjadi perhatian adalah bencana hidrometeorolgi yang mencakup banjir, puting beliung dan tanah longsor (Batingsor).

“Ini sebenarnya sudah diantisipasi, karena pemerintah provinsi juga sudah menggelar rapat koordinasi mengantisipasi bahaya hidrometeorologi. Salah satunya dengan meminta kesiapsiagaan kita terhadap wilayah-wilayah yang rawan banjir dan tanah longsor. Kawasan Risiko Bencana,” kata Didit Richardi, Selasa (27/10/2026).

Kemarau panjang, kata dia, membuat pori-pori tanah membesar. Begitu menerima suplai air yang tinggi, masa tanah akan mudah bergerak.

“Paling gampang terjadi adalah tanah longsor. Banjir terjadi kalau di hulu debit air hujan tinggi, baik banjir bandang maupun banjir genangan,” terangnya.

Didit mengaku sarana dan prasarana (Sarpras) BPBD Sanggau dalam menghadapi banjir, cukup, seperti perahu, dapur umum, maupun cadangan logistik.

“Jadi kita relatif lebih siap. Cuma yang kita khawatirkan, kalau Karhutla ini, belum ada yang dekat permukiman sehingga menelan korban jiwa. Kalau banjir besar, kemungkinan ada korban jiwa. Itu yang coba kita minimalisir,” sebutnya

Tak seperti sebelumnya, Didit mengatakan cuaca ekstrem menyebabkan siklus banjir sulit untuk dipelajari. Iklim tak dapat diprediksi. Ia mencontohkan super elnino yang terjadi saat ini. Prediksinya terjadi empat tahun sekali. Tapi kali ini, justru maju setahun.

“Tahun ke depannya bisa maju setahun. Mungkin saja bisa setiap tahun. Karena itu memang iklim ekstrem. Tidak bisa diprediksi BMKG sekalipun. Sebagai contoh, harusnya Oktober ini sudah turun hujan di bagian utara Kalbar, tapi ini tidak stabil. Masih musim kemarau,” bebernya.

“Prediksi super elnino di Indonesia akan berakhir Desember, tapi ternyata BMKG mengatakan agak mundur hingga Januari-Februari. Jadi anomali cuaca ini sudah sulit ditebak,” tambahnya.

Didit menjelaskan, kawasan lahan banjir selain bantaran sungai, adalah kawasan tutupan lahan, sepeti lahan pembukaan untuk perkebunan sawit maupun pertambangan.

“Itu rawan banjir. Banjir ini kan sebenarnya direduksi oleh vegetasi yang ada di atasnya. Kalau vegetasi sudah tidak ada lagi, tidak ada alasan lagi air bisa menyerap, akhirnya mereka mencari dataran yang lebih rendah. Terjadilah banjir. Jadi tidak hanya di bantaran sungai,” terangnya.

Seharusnya, kata Didit, pembukaan lahan atau apa pun baik untuk usaha atau pemukiman harus ada izin dari pemerintah. Karena pemerintah tahu di mana pembukaan lahan yang bisa mengancam lingkungan sekitarnya.

“Seperti di Sosok itu yang melintas jalan itu, kalau kita lihat kan ada penggundulan hutan, jadi air tidak bisa tertahan lagi. Beberapa daerah itu terjadi banjir yang menyebabkan longsor itu karena ada pembukaan lahan di sisi jalan yang lain,” tutupnya. (Ram)

Tentang Redaksi

Cek Juga

12 Peserta Ini Dinyatakan Lolos Seleksi Administrasi Calon Sekda Kalbar  

  KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK – Sebayak 12 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi Penelusuran Rekam Jejak …