
KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Jumlah hotspot (titik api) di Kabupaten Sanggau dalam rentang waktu Mei-Juni 2026 meningkat. Peningkatan tersebut berdasarkan pembacaan citra satelit.
Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sanggau, Kristian Hendro mengatakan hal itu diakibatkan intensitas curah hujan sedikit, dan sudah mulai banyak aktivitas masyarakat membuka lahan, atau perkebunan.
“Kalau berdasarkan laporan dari Pusdalops BPBD jumlah Hotspot di Kabupaten Sanggau dari Januari sampai sekarang ini totalnya 402 untuk kategori low-high. Untuk di Kecamatan Kapuas sendiri ada 36 hot spot, di Kecamatan Mukok ada 11,” katanya, Kamis (12/06/2026).
“Yang tertinggi untuk titik hotspot ini ada di Kecamatan Toba dan Tayan Hilir. Memang dua kecamatan ini adalah daerah rawan Karhutla, khususnya memang kualitas lahan gambutnya juga tinggi,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir terjadi dua kebakaran lahan di Kota Sanggau yaitu di Sungai Sengkuang dan di ring road Sabang Merah. Petugas dari Manggala Agni bersama Pusdalops BPBD bekerja sama Damkar TNI/Polri dapat memadamkan kebakaran seluas satu hektar lahan di Sungai Sengkuang yang terbakar tersebut.
“Kemudian ada juga di ring road di Sabang Merah itu juga lahan terbakar akibat dari kelalaian manusia, mungkin ada membuang puntung rokok sehingga menyebabkan kebakaran dan itu bisa ditangani,” ungkapnya.
Hendro menyebut kawasan Kecamatan Kapuas yang sering terjadi kebakaran mencakup Kelurahan Sungai Sengkuang, Ilir Kota, termasuk juga Bunut.
“Jadi dalam kota saja sudah sering kebakaran. Tetapi untuk para peladang atau petani, memang sudah ada Perdanya nomor 14 tahun 2022, tapi itu juga ada mekanisme yang harus mereka ikuti dan taati. Jadi satu KK itu bisa buka lahan maksimal dua hektar, dan meraka harus melapor ke Babinsa, Babinkamtibmas, atau kepala desa.
Sementara itu, Danramil Kapuas, Kapten Eko Prasetyo Widodo menegaskan, masalah Karhutla merupakan tanggung jawab seluruh pihak.
“Kita kenal dengan petahelix. Melibatkan pemerintah, aparat, perusahaan, wartawan dan masyarakatnya. Jadi tidak bisa hanya satu saja yang menyelesaikan masalah ini. Jadi bagimana tindakan preventifnya masyarakat juga diberikan pengetahuan, keterampilan oleh BPBD, Manggala Agni, sehingga minimal ada kemampuan bagaimana untuk mengurangi dampak Karhutla itu sendiri,” tegasnya. (Ram)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya