
KALIMANTANTODAY,SANGGAU. Sejumlah petani sawit di Kabupaten Sanggau mengeluhkan anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS). Harga TBS yang terjun bebas diduga akibat kebijakan pemerintah terkait ekspor satu pintu melalui PT DSI Danantara.
Petani sawit asal Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kornelis mengaku jika harga sawit saat ini anjlok hingga 50 persen. Sebelumnya, Kornelis mengaku biasa menjual harga TBS Rp 3000 per kilo gramnya.
“Sekarang tinggal Rp 1500 per kilo. Harga pupuk naik. Belum lagi ongkos pemanen tidak turun. Kalau begini bagus tidak usah dipanen. Intinya penghasilan tidak menutup kebutuhan. Saya bingung bayar pupuk nanti pakai apa?,” keluhnya.
Bukan hanya dirinya, petani lain yang ia kenal juga merasakan hal serupa.
“Sepupu saya baru beli mobil untuk pengangkut sawit terpaksa dijual lagi. Harapannya uang dari penjualan sawit bisa nutup. Tapi ndak tahunya harga sawit anjlok,” ungkapnya.
Menanggapi anjloknya harga TBS, Kabid Bina Usaha Perlindungan Perkebunan dan Permetaan, Disbunnak Sanggau, Kacuk Fitrianto mengatakan kebijakan pemerintah terhadap pengelolaan penjualan Crude Palm Oil (CPO) ke luar negeri melalui satu pintu menyebabkan sedikit kekacauan.
“Selama ini bisa pengusaha CPO ini bisa langsung menjual ke pembeli tanpa perantara. Hal ini menyebabkan sedikit kekacauan. Ini langkah yang diambil pemerintah dalam rangka penyatuan harga ke depannya. Mohon bersabar untuk para petani kelapa sawit untuk menunggu kebijakan pemerintah berikutnya,” katanya.
Ia mengakui jika banyak masyarakat mengeluhkan anjloknya harga TBS. Lagi-lagi ia meminta petani bersabar. Ia yakin kebijakan ekspor CPO satu pintu melalui Danantara telah dikaji lama oleh pemerintah pusat.
“Nanti kita lihat berapa harga penetapan dari provinsi,” tutupnya. (Ram)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya