
KALIMANTAN TODAY, JAKARTA – Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., menghadiri pelantikan Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) periode 2025–2030 yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Pelantikan dilakukan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, diawali pembacaan Surat Keputusan dan penyerahan bendera pataka kepada Bupati Mempawah, Dr. Hj. Erlina, S.H., M.H., yang resmi dilantik sebagai Ketua Umum ASPEKSINDO.
Usai acara, Gubernur Ria Norsan menyampaikan apresiasi sekaligus pesan mendalam terkait tanggung jawab kepemimpinan dalam organisasi.
“Saya ucapkan selamat atas pelantikan ini. Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya dan menjadi amal ibadah. Berjuanglah untuk masyarakat dan sejahterakan mereka,” ujar Ria Norsan.
Gubernur menegaskan, ASPEKSINDO memiliki peran strategis dalam mendorong optimalisasi potensi daerah pesisir, termasuk di Kalimantan Barat yang memiliki garis pantai luas, khususnya wilayah Mempawah.
Ia menyoroti dua fokus utama pembangunan sektor maritim ke depan, yakni pengembangan program Kampung Nelayan dan hilirisasi industri perikanan.
“Kita mendorong percepatan pengembangan Kampung Nelayan di titik-titik strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat pesisir secara terpadu,” jelasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya hilirisasi agar hasil perikanan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah.
“Kita ingin menciptakan industri hilir sehingga ikan tidak hanya dijual mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah dan siap ekspor,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan pentingnya transformasi Indonesia sebagai negara kepulauan yang kuat melalui penguatan ekonomi berbasis laut.
Ia menyoroti bahwa produksi rumput laut Indonesia yang mencapai sekitar 10 juta ton per tahun belum memberikan nilai ekonomi maksimal karena masih dijual dalam bentuk bahan baku.
“Tantangan kita adalah mengubah ini menjadi industri. Kita harus beralih dari sekadar produksi ke pengolahan bernilai tambah,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan Norwegia yang mampu meraih valuasi hingga 64 miliar USD hanya dari komoditas salmon, sementara ekspor perikanan Indonesia masih berada dibawah negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang telah melampaui 10 miliar USD.
“Saat ini, ekspor perikanan Indonesia masih didominasi oleh hasil tangkapan laut, dengan pengecualian pada komoditas udang yang menjadi andalan budidaya. Sektor udang sendiri mencatatkan nilai ekspor hampir 2 miliar USD dan menyerap jutaan tenaga kerja di sektor budidaya dan pengolahan,” jelasnya.
Politisi PAN ini menambahkan, kedepan, pemerintah mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk mengembangkan budidaya komoditas strategis lainnya, seperti tuna cakalang. Menteri mencatat bahwa negara-negara seperti Australia, Jepang, dan Turki telah berhasil melakukan budidaya tuna dengan valuasi yang sangat tinggi.
”Oleh karena itu, saya mengajak para pimpinan daerah yang tergabung dalam Aspeksindo untuk menjadikan pesisir sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ia berharap riset dan teknologi dari pakar kelautan, termasuk mantan Menteri KKP Prof. Rokhmin Dahuri yang turut hadir, dapat diimplementasikan untuk meningkatkan daya saing produk kelautan Indonesia di pasar global,” terangnya.
Dirinya juga mengungkapkan optimismenya bahwa Indonesia akan menjadi eksportir ikan segar berkualitas premium dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
“Jadi, kunci utama untuk menghasilkan ikan kualitas premium adalah penggunaan teknologi slurry ice (es cair) yang berbahan baku air laut. Berbeda dengan es balok air tawar yang justru mempercepat pembusukan, slurry ice mampu menjaga ikan tetap segar seketika setelah ditangkap,” jelasnya.
Disamping itu, melalui program ini, pemerintah menargetkan produksi ikan mencapai 2,8 hingga 3 juta ton per tahun dari berbagai titik Kampung Nelayan Modern.
“Kita pastikan bahwa setiap daerah akan difokuskan pada komoditas unggulan, seperti ikan tongkol atau tuna yellowfin, tergantung potensi wilayah masing-masing,” tambahnya.
Sementara itu, dengan dilantiknya sebagai Ketua Umum Aspeksindo, Bupati Mempawah, Dr.Hj. Erlina, SH., MH., dibawah naungannya, Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) menegaskan komitmennya untuk mengubah paradigma pembangunan nasional.
Erlina menekankan bahwa wilayah pesisir dan kepulauan harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masa depan Indonesia. Momentum ini bukan sekadar pelantikan biasa, melainkan langkah konsolidasi nasional untuk memastikan laut tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran.
“Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dengan lebih dari 60% wilayah berupa laut. Namun, kontribusinya terhadap ekonomi nasional belum mencerminkan kekuatan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Ia menggarisbawahi bahwa persoalan utama bangsa bukan pada kekurangan sumber daya, melainkan pada kurangnya nilai tambah (added value) dari hasil laut tersebut.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Aspeksindo menetapkan dua agenda strategis dalam periode kepengurusan kali ini yakni akselerasi hilirisasi kelautan dan Aspeksindo mendorong agar daerah tidak hanya berhenti pada aktivitas produksi primer.
“Ikan tidak cukup hanya ditangkap, rumput laut tidak cukup hanya dipanen. Kita harus naik kelas dengan membangun industri pengolahan berbasis bioteknologi di daerah agar nilai tambah tetap dinikmati oleh masyarakat lokal dan nelayan,” tegasnya.
Dr.Hj. Erlina juga mengajak agar laut dipandang sebagai tabungan masa depan yang harus dijaga keberlanjutannya. Aspeksindo mendukung penuh kebijakan penangkapan ikan terukur, penguatan kawasan konservasi, serta perlindungan ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang.
Selain sektor perikanan konvensional, Aspeksindo juga menyoroti potensi blue carbon dan perdagangan karbon sebagai peluang ekonomi baru bagi daerah pesisir yang sejalan dengan isu lingkungan global.
Terakhir, ia mengajak seluruh kepala daerah untuk bersinergi dan menjadikan laut sebagai pemersatu bangsa serta sumber kemakmuran nyata.
“Jika darat adalah halaman depan negeri kita, maka laut adalah masa depan yang harus kita menangkan,” pungkasnya.(rfa/ica)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya