Senin , 15 Juli 2024
Home / NEWS / Tarian Tiga Etnis Tutup HUT Bhayangkara ke 73 di Sanggau

Tarian Tiga Etnis Tutup HUT Bhayangkara ke 73 di Sanggau

CARA PUNCAK. Tarian dari tiga etni; Dayak, Melayu dan Tionghoa, mengawali pagelaran acara puncak HUT Bhayangkara ke-73 di halaman Mapolres Sanggau, Selasa (16/7)---Kiram Akbar
Tarian dari tiga etni; Dayak, Melayu dan Tionghoa, mengawali pagelaran acara puncak HUT Bhayangkara ke-73 di halaman Mapolres Sanggau, Selasa (16/7)—Kiram

 

KALIMANTAN TODAY, SANGGAU. Acara puncak HUT Bhayangkara ke-73 digelar pada Selasa (16/7) di halaman Mapolre Sanggau. Tarian dari berbagai etnis seperti Dayak, Melayu, Tionghoa dan Jawa ditampilkan pada acara yang dikemas dalam bentuk pesta rakyat itu.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi mengungkapan apreseasiya pada Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi yang mengisi acara tersebut dengan pagelaran budaya. “Hari ini saya senang sekali sekali mendengar pesta rakyat ini, diisi dengan tampilan-tampilan seni budaya. Inilah khasnya Sanggau,” kata PH, sapaan Paolus Hadi.

Lebih lanjut bupati dua periode itu menegaskan Kabupaten Sanggau adalah Indonesia kecil, yang sungguh-sungguh bukan hanya mendorong satu budaya, tapi beragam budaya nusantara. Ia juga menegaskan untuk jangan takut berbeda.

“Perbedaan bukan penghalang. Karena di dalam tubuh kita ini saja pasti berbeda. Ini yang menurut kita harus kita tumbuhkan ini. Kemarin kita mendengar bapak presiden dalam pidatonya kedepan. Kita harus sepakat, tak ada ideologi selain Pancasila,” tegasnya.

Ia juga mengakui, secara psikologis, terkadang muncul ego dari yang mayorita. “Contoh Dayak di sini (Sanggau) 67 persen. Harusnya kita berpikir Dayak lebih hebat di sini. Yang benar, mayoritas mampu mengajak saudara-saudaranya untuk berdampingan sama-sama kuat. Menurut saya itu yang tepat. Di darah saya mengalir darah dayak. Kuatkan diri sendiri supaya bisa dihargai,” pesannya.

Karenanya PH ingin kembali menguatkan semangat dompu. Semangat persaudaran antara etnis dan agama di Kabupaten Sanggau.

“Kalau yang Dayak, Melayu dan Tionghoa paham barang itu. Karena dulu kalau jaman orangtua kami, mereka pasti punya sahabat khusus dengan saudara-saudara di sini. Kalau dulu saudara saya Melayu mereka suka mencari ikan, sedangkan kami di darat, yang disebut Dayak jarang bisa cari ikan. Tapi bisa bertukar. Mereka bisa berteman, bersaudara, walaupun bukan saudara kandung. Demikian pula dengan yang Tionghoa. Mereka bisa jual getah dan seterusnya. Itulah dompu,” jelas PH.

Mereka itu, lanjut PH, punya hubungan yang kuat. Bahkan tak jarang anak mereka tinggal di tempat saudara dompu mereka itu. Semangat dompu itu harus dikuatkan kembali agar persaudaraan bisa lebih baik.

“Di periode pertama kami selalu mengatakan ‘bekerja dengan hati, dan bergotong-royong’ itu sebenarnya Dompu, dalam bahasa Sanggau-nya. Bekerja dengan hati, sederhana. Kita bertugas di sini cintailah Sanggau, walaupun tak lama. Saya ndak tahu pak Kapolres, jangan-jangan tahun depan sudah pindah. Tapi dalam satu tahun ini betul-betul mencintai Sanggau,” pungkasnya.

Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi menegaskan, setiap anggota Polri wajib memahami potensi-potensi adat dan budaya masyarakat setempat. Mengingat tugas polisi sangat bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Sebelum kita memberikan pelayanan, kita harus memetakan potensi yang ada di masyarakat ini apa. Ini yang kita jaga. Kita terus berupaya merenovasi dan update apa sih keinginan masyarakat dengan Polri ini,” kata Kapolres. (Ram)

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Pj Bupati Sanggau Tegaskan Pengusaha Walet Wajib Bayar Pajak, Perintahkan OPD Teknis Cek Lapangan

KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Penjabat (Pj) Bupati Sanggau, Suherman menegaskan para pengusaha sarang burung walet memiliki kewajiban …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *