
KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Hujan deras yang turun pada Sabtu (05/09/2026) dini hari sempat menekan jumlah titik hot spot. Selang sehari, pada Minggu (06/09/2026) titik hot spot di Kabupaten Sanggau kembali meningkat. Diprediksi akan kembali meningkat.
“Sejak hujan pada Sabtu pagi sampai pukul 23.59 hanya dua titik hot spot. Tapi pada Minggu meningkat menjadi 36 hot spot,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Kabupaten Sanggau, Didit Richardi, Senin (07/09/2026).
Ia mengaku khawatir jumlah tersebut akan terus meningkat lantaran berdasarkan data masih ada masyarakat di delapan kecamatan yang masih akan melakukan pembukaan lahan. Didit mengaku total luasnya, yang dapat terverifikasi 407,5 hektar.
“Tapi kemungkinan di luar itu akan lebih besar. Karena data ini yang berada di bawah kendali PPL. Di luar itu, peladang pribadi tidak terdata,” ungkapnya.
Didit mengatakan titik hot spot dan fenomena Godzila Elnino akan mencapai puncaknya dan mulai melandai pada Oktober hingga akhir tahun.
“Kemungkinan titik hot spot kita akan melonjak lagi. Berdasarkan data dari BMKG normal lagi curah hujan di Desember 2026-Januari 2027. Namun curah hujan akan mulai muncul, walaupun intensitas rendah pada pertengahan Oktober 2026,” pungkas Didit.
Hanya Dibekali Kantong Seprotan Manual
Sementara itu Dandim 1204/Sanggau, Letkol Inf. Nurrachman Gindha Dradhizya mengaku pemadaman Karhutla sudah dilakukan maksimal. Berkolaborasi dengan Polri, Batalyon, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api.
“Laporan-laporan awal itu sangat menentukan untuk pemadaman awal. Jadi kami berterima kasih dengan seluruh masyarakat Sanggau telah aktif melaporkan bagaimana titik api di awal dan kami langsung melakukan pemadaman,” kata Dandim.
“Pemadaman saat ini bukan hanya tanggung jawab instansi terkait atau BPBD, tapi seluruh masyarakat,” tambahnya.

Ia mengaku kesulitan dalam proses pemadaman adalah ketersediaan air. Sumber air seperti embung, kanal, parit serta sungai juga mengering. Ditambah lagi beberapa daerah juga tak bisa dijangkau dengan mobil damkar.
“Kami terpaksa pakai motor. Kita hanya dibekali kantong semprot manual. Jadi teknik-teknik di lapangan dalam meminimalisir perluasan harus diketahui. Jadi memadamkan api dengan seminimal air yang ada,” ungkap Dandim.
Ia juga menyebut telah menyediakan 11 sumur darurat dan 17 sumur bor di daerah perbatasan sebagai solusi minimnya ketersediaan air.
“Seperti dikatakan bencana ini Elnino, selain kebakaran hutan juga meluas pada kekeringan beberapa daerah. Jadi kita harus memberi solusi menyediakan titik air,” tutupnya. (Ram)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya