
KALIMANTAN TODAY, LANDAK — Pemerintah Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menggelar Gerakan Pangan Murah di pelataran Pasar Baru Pahauman, Kecamatan Sengah Temila, Kamis (19/2/226).
Kegiatan intervensi pasar ini dilakukan untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik menjelang bulan puasa dan hari raya.
Bupati Landak Karolin Margret Natasa yang hadir meninjau langsung pelaksanaan program tersebut mengatakan, langkah ini diambil untuk membantu masyarakat mengakses sembako dengan harga yang wajar.
“Hari ini kita melaksanakan gerakan pangan murah antisipasi dalam memasuki bulan Ramadan dan hari raya yang nanti akan kita laksanakan secara berkelanjutan. Mudah-mudahan bisa membantu untuk mengendalikan dan bagaimana kita terus memonitor harga bahan-bahan pokok di Kabupaten Landak,” ujar Karolin dalam sambutannya di hadapan warga dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Menurut Karolin, tren kenaikan harga di pasaran tidak hanya disebabkan oleh siklus tahunan meningkatnya konsumsi jelang Ramadhan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global. Ia menjelaskan bahwa ketegangan antarnegara, seperti konflik Rusia dan Ukraina, serta dinamika politik negara-negara besar lainnya, berdampak pada rantai pasokan perdagangan internasional.
“Hal ini menyebabkan komoditas yang masih mengandalkan impor, seperti bawang putih, menjadi lebih sulit didapat dan harganya terkerek naik,” ungkapnya.
Melalui Gerakan Pangan Murah, warga bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang telah disubsidi oleh pemerintah daerah. Untuk beras kemasan lima kilogram dijual seharga Rp 60.000, Minya Kita Rp 15.000 per liter, telur Rp 1.900 per butir, dan tepung terigu Rp 13.000. Sementara itu, komoditas bawang merah dibanderol Rp 72.000 per kilogram, bawang putih kemasan setengah kilogram Rp 24.000, serta gas elpiji 3 kilogram seharga Rp 20.000.
Kehadiran pasar murah ini disambut baik oleh warga. Guspriono Pinus, salah seorang warga Pahauman, mengaku sangat terbantu untuk mendapatkan gas elpiji dengan harga standar.”Sangat menunjang untuk masyarakat yang tidak mampu. Berharga senilai Rp 20.000. Kalau di toko-toko itu sampai Rp 25.000, berkisar sampai Rp 35.000,” kata Guspriono.
Senada dengan Guspriono, seorang warga bernama Nina berharap program penguatan daya beli masyarakat ini dapat terus dipertahankan. “Program yang kayak gini harus selalu ada biar meringankan bagi masyarakat yang kayak kamilah yang kurang mampu gitu supaya agak ringan,” tuturnya.
Terkait kelangkaan elpiji 3 kilogram yang banyak dikeluhkan masyarakat, Karolin menegaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat adanya pengurangan kuota dari tingkat pusat dan perubahan sistem pendistribusian yang kini mewajibkan pendataan KTP secara daring.
“Sekarang dengan perubahan sistem harus pakai KTP online dan segala macam justru kita susah dapat elpiji, karena yang dulunya pangkalan itu bisa dapat sampai 500 tabung sekarang maksimal paling bisa dapat 200. Jadi memang dari sananya dari Jakarta pengaturannya itu dikurangi,” papar Karolin.
Karolin menambahkan, pemerintah daerah sudah melayangkan surat ke pusat untuk meminta pemenuhan kuota tersebut. Guna mencegah adanya spekulasi harga di pasar tradisional, Karolin secara khusus meminta aparat penegak hukum dari kepolisian dan kejaksaan untuk ikut memonitor ketersediaan barang. Jika ditemukan ada toko yang menjual kebutuhan pokok jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, ia meminta aparat segera melakukan penelusuran dan pembinaan.
Langkah pengawasan harga ini sangat ditekankan mengingat ruang gerak anggaran pembangunan di daerah sedang terbatas. Karolin mencontohkan, alokasi Dana Desa saat ini mengalami pemotongan signifikan dari Rp 1 miliar menjadi sekitar Rp 700 juta, sehingga banyak usulan pembangunan desa tidak bisa diakomodasi.
Sebagai solusi jangka panjang menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi, Karolin mengimbau warga agar mulai menciptakan ketahanan pangan secara mandiri dari rumah.
“Bagi masyarakat Bapak Ibu yang punya tanah, punya lahan, dimanfaatkan dengan baik. Misalnya cabai kalau bisa kita tanam, tomat kita tanam supaya Ibu Bapak bisa menyediakan kebutuhan paling tidak untuk rumah tangga, karena memang barang-barang semakin mahal dan semakin sulit didapat,” pungkas Karolin. ***
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya