Jumat , 6 Februari 2026
Home / BANGUN KALBAR / Pemprov Kalbar Siapkan Strategi Tekan Inflasi Jelang Hari Raya Keagamaan

Pemprov Kalbar Siapkan Strategi Tekan Inflasi Jelang Hari Raya Keagamaan

Gubernur Kalbar Ria Norsan

 

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, bersama Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan, menghadiri High Level Meeting (HLM) Pengendalian Inflasi dalam rangka koordinasi strategi 4K (Kelancaran Distribusi, Ketersediaan Pasokan, Kestabilan Harga, dan Komunikasi Efektif) menjelang Hari Raya Imlek, Bulan Suci Ramadhan, serta Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Keriang Bandong, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Kamis (5/2/2026).

Dalam forum tersebut, Gubernur Ria Norsan menegaskan bahwa pengendalian inflasi menjadi prioritas utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat guna menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan.

“Pada tahun 2025, Kalbar berhasil mencatat inflasi yang rendah dan stabil sebesar 1,85 persen, jauh di bawah inflasi nasional yang tercatat 2,92 persen. Ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujar Gubernur.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tahun 2026 menghadirkan tantangan yang lebih berat. Sejumlah faktor berpotensi meningkatkan tekanan inflasi daerah, mulai dari anomali cuaca yang berdampak pada produksi pangan hingga kenaikan harga komoditas strategis.

“Memasuki tahun 2026, kita menghadapi risiko peningkatan inflasi menjadi sekitar 3,33 persen. Tekanan ini antara lain disebabkan gangguan produksi akibat cuaca ekstrem, gagal panen, serta kenaikan harga beras, cabai, bawang merah, emas perhiasan, dan tarif angkutan udara,” jelasnya.

Gubernur juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG/SPPG) yang turut meningkatkan permintaan pangan, khususnya beras, telur, dan daging ayam.

“Kebutuhan beras untuk program ini sangat besar. Karena itu, kita harus memastikan pasokan tetap aman agar tidak menekan harga di pasar dan merugikan masyarakat,” tambahnya.

Terkait ketersediaan energi, Gubernur memastikan pemerintah bergerak cepat mengantisipasi potensi kelangkaan LPG 3 kilogram menjelang Ramadhan.

“Gas LPG 3 kilogram sempat terjadi kelangkaan, namun sudah kita minta agar segera disuplai kembali. Saya tidak ingin di awal Ramadhan masyarakat kembali ribut soal gas,” tegasnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Gubernur meminta seluruh kepala daerah serta PPID kabupaten/kota aktif berkoordinasi dengan perangkat daerah dan PPID Provinsi.

“Saya minta kepala daerah rutin memantau stok dan harga bahan pangan, melakukan langkah preventif terhadap potensi gejolak, serta memperkuat kerja sama antar daerah, khususnya daerah yang defisit pasokan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti kenaikan harga daging ayam ras dan LPG 3 kilogram di sejumlah daerah seperti Kabupaten Sambas, Kapuas Hulu, Melawi, dan Kubu Raya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan berharap rapat pengendalian inflasi tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi menghasilkan solusi konkret.

“Saya berharap rapat ini melahirkan langkah nyata, bukan sekadar seremonial. Hampir setiap hari raya inflasi selalu terjadi karena permintaan meningkat, sementara stok menurun. Akibatnya harga naik dan daya beli masyarakat turun,” tegasnya.

Menurutnya, akar persoalan inflasi di Kalbar bukan semata distribusi, melainkan produksi pangan yang belum mencukupi kebutuhan.

“Operasi pasar saja tidak cukup karena hanya solusi jangka pendek. Kita harus mendorong peningkatan produksi pertanian dan peternakan agar stok tersedia dan harga stabil,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar Doni Septadijaya menjelaskan bahwa inflasi Kalbar masih relatif terkendali dibandingkan sejumlah provinsi lain di Kalimantan.

“Kenaikan inflasi salah satunya dipengaruhi base effect, karena pada Januari tahun lalu inflasi kita sangat rendah,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga inflasi inti serta komunikasi yang tepat kepada masyarakat untuk mengelola ekspektasi.

Selain itu, Kepala BPS Kalimantan Barat memaparkan bahwa inflasi Kalbar pada Januari 2026 secara tahunan tercatat 3,33 persen, dengan komoditas pangan sebagai penyumbang utama.

“Komoditas yang mendorong inflasi Januari antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, serta emas perhiasan,” ungkapnya.

Menjelang hari besar keagamaan, pemerintah diharapkan memperkuat sinergi dan langkah strategis agar inflasi tetap terkendali serta kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan. (adpim)

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Dari Rakornas ke Daerah, Program MBG Terus Diperluas

  KALIMANTAN TODAY,  BOGOR — Presiden Prabowo Subianto menegaskan keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) …