
KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK – Sejak pelantikan resmi gubernur tanggal 20 Februari 2025, Ria Norsan memasuki ruang kepemimpinan Kalimantan Barat tanpa gegap gempita berlebihan.
Tidak ada janji terlampau tinggi. Tidak ada retorika kosong. Hari demi hari berlalu melalui kerja administratif padat serta kunjungan lapangan senyap. Gaya memimpin ini mencerminkan karakter pribadi sederhana namun teguh.
Awal tahun 2026 menjadi momentum penting. Di halaman apel perdana Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Ria Norsan berdiri menatap aparatur sipil negara serta jajaran perangkat daerah. Pidato singkat terucap lugas. Fokus pembangunan disederhanakan ke satu simpul utama Indeks Pembangunan Manusia.
Bagi Ria Norsan, pembangunan bukan sekadar beton. Bukan pula sekadar angka laporan. Pembangunan berarti kualitas hidup warga desa. Anak sekolah.
Ibu hamil. Petani pinggiran. Akses jalan. Jembatan kokoh. Pelayanan dasar hadir merata. Komitmen itu terucap jelas.
“Yang pertama, kita tetap fokus pada IPM dengan meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, serta indikator indikator pendukung lainnya agar IPM Kalbar bisa naik. Ini kita kerjakan bersama, PKK kita libatkan hingga ke masyarakat pedesaan,” tutur Ria Norsan pada sebuah momentum.
Kutipan tersebut menegaskan pendekatan kolaboratif. Negara tidak berjalan sendiri. Negara mengajak masyarakat bergerak bersama.
Fokus IPM Kalbar
Indeks Pembangunan Manusia menjadi tolok ukur utama kualitas hidup warga. Di Kalimantan Barat, indikator ini lama tertahan di papan bawah regional Kalimantan.
Ria Norsan menyadari posisi ini bukan sekadar angka statistik. Di balik data terdapat wajah nyata. Anak desa tertinggal akses pendidikan. Puskesmas jauh. Jalan rusak memperpanjang waktu tempuh layanan kesehatan.
Ria Norsan tidak memulai dari nol. Namun ia memulai dari kesadaran penuh. IPM harus naik melalui intervensi langsung sektor pendidikan kesehatan serta faktor pendukung sosial ekonomi. Strategi ini bukan jargon. Ia diterjemahkan menjadi program nyata lintas organisasi perangkat daerah.
Pendidikan mendapat perhatian khusus. Pemerintah provinsi mendorong peningkatan kualitas sekolah menengah. Bantuan sarana belajar diperluas. Guru daerah terpencil mendapat pendampingan. Literasi menjadi kata kunci baru pembangunan manusia.
Kesehatan menjadi fondasi kedua. Akses layanan dasar diperkuat. Puskesmas didorong aktif menjangkau wilayah pelosok. Program kesehatan ibu anak diprioritaskan. Angka stunting ditekan melalui intervensi gizi terintegrasi.
Ria Norsan tidak memandang IPM sebagai target abstrak. Ia memandang IPM sebagai potret martabat manusia Kalimantan Barat. Harapan pribadi ia sampaikan terbuka.
“Saya berharap di akhir masa jabatan saya tahun 2030, IPM Kalbar tidak lagi berada di posisi belakang dari lima provinsi di Kalimantan. Target kita nomor dua setelah Kalimantan Timur,” ucapnya menjelaskan. Pernyataan ini bukan sekadar ambisi. Ini pernyataan tanggung jawab publik.
Jalan Desa Terbuka
Pembangunan manusia tidak berdiri sendiri. Jalan menjadi nadi kehidupan wilayah. Tanpa konektivitas, pendidikan sulit menjangkau. Tanpa akses jalan, layanan kesehatan tertunda. Oleh sebab itu, tahun 2026 diarahkan pada percepatan infrastruktur strategis.
Enam ruas jalan provinsi menjadi prioritas. Fokus utama berada di wilayah selatan Kalimantan Barat. Pesaguan menuju Kendawangan. Sukadana menuju Teluk Batang. Ketapang menuju Sukadana. Prawas menuju Kayung Utara.
Ruas Sukadana Teluk Batang mendapat perhatian khusus. Jalan ini memiliki nilai strategis nasional. Selain membuka akses ekonomi pesisir, jalur ini menopang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional. Ria Norsan menyampaikan target jelas.
“Untuk jalan Sukadana Teluk Batang, kita upayakan tahun 2026 ini sudah selesai sebelum Agustus,” ucapnya menegaskan.
Pernyataan tersebut menunjukkan disiplin waktu. Infrastruktur bukan proyek tanpa tenggat. Infrastruktur harus hadir tepat guna.
Ruas Ketapang Sukadana telah rampung penuh. Akses Prawas menuju Kayung Utara kembali dibuka. Jembatan rusak telah diperbaiki. Jalur terputus kembali tersambung.
Dampak langsung terasa. Waktu tempuh menuju Kayung Utara kini diperkirakan enam jam. Sebelumnya perjalanan dapat memakan waktu belasan jam. Bagi warga, ini perubahan besar. Bagi pedagang, ini efisiensi biaya. Bagi pasien darurat, ini penyelamat nyawa.
Kerja Tanpa Lelah
Ria Norsan dikenal memiliki gaya kerja senyap. Tidak banyak konferensi pers. Tidak gemar pencitraan. Ia memilih turun lapangan. Mendengar langsung keluhan warga. Melihat kondisi riil desa. Gaya ini menumbuhkan kepercayaan perlahan namun kuat.
Keterlibatan Tim Penggerak PKK menjadi strategi sosial penting. Organisasi ini menjangkau rumah tangga hingga dusun terpencil. Program kesehatan pendidikan keluarga dapat berjalan efektif melalui jejaring perempuan desa.
Pendekatan partisipatif ini memperkuat legitimasi kebijakan. Warga tidak merasa digurui. Warga merasa dilibatkan.
Tantangan tetap besar. Luas wilayah Kalimantan Barat. Infrastruktur lama tertinggal. Anggaran terbatas. Namun Ria Norsan memilih bekerja konsisten. Ia menyadari perubahan tidak instan.
Pembangunan ini terletak pada keseharian. Pada anak desa melangkah ke sekolah melalui jalan mulus. Pada ibu hamil menjangkau puskesmas tanpa hambatan.
Pada petani membawa hasil panen lebih cepat ke pasar. Pembangunan semacam ini tidak selalu viral. Namun dampaknya bertahan lama.
Dalam lanskap politik daerah, kepemimpinan Ria Norsan menghadirkan narasi kerja. Ia tidak membangun kultus personal. Ia membangun sistem. Ia tidak menawarkan keajaiban. Ia menawarkan proses.
Narasi ini relevan bagi era pasca populisme. Publik mulai jenuh janji kosong. Publik menginginkan bukti nyata. Jalan selesai. IPM naik. Layanan membaik.
Kalimat pidato Ria Norsan singkat. Pilihan kata padat. Fokus jelas. Tidak berputar. Tidak berlebihan.
Inilah gaya kepemimpinan teknokratis humanis. Angka statistik dipadukan empati sosial. Infrastruktur berpadu pembangunan manusia.
Jika konsistensi ini terjaga hingga 2030, Kalimantan Barat memiliki peluang keluar dari bayang ketertinggalan. Bukan melalui loncatan spektakuler. Melainkan langkah kecil terukur.
Di pagi apel awal tahun 2026 misalnya, suara peluit menandai rutinitas birokrasi. Namun di balik rutinitas, arah besar telah ditetapkan. IPM naik. Jalan terbuka. Desa bergerak.
Ria Norsan tidak menulis sejarah dengan tinta besar. Ia menulisnya melalui kerja harian. Melalui dokumen perencanaan. Melalui aspal terhampar. Melalui angka IPM perlahan naik.
Bagi warga Kalimantan Barat, pembangunan bukan sekadar berita. Pembangunan menjadi pengalaman hidup. Maka, di situlah kepemimpinan menemukan maknanya. (Tim redaksi)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya