Senin , 26 Februari 2024
Home / NEWS / Minimalisir Pembakaran Lahan, Ini Konsep yang Ditawarkan Pemkab Sanggau

Minimalisir Pembakaran Lahan, Ini Konsep yang Ditawarkan Pemkab Sanggau

Foto---Kadishangpang Hortikan Kabupaten Sanggau, John Hendri
Kadishangpang Hortikan Kabupaten Sanggau, John Hendri.

 

KALIMANTAN TODAY, SANGGAU – Membuka lahan dengan cara membakar masih menjadi persoalan di Kabupaten Sanggau. Untuk meminimalisirnya, Pemkab Sanggau melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perikanan (Dishangpang Hortikan) Kabupaten Sanggau menawarkan konsep tumpang sari.

“Satu lahan yang dimiliki masyarakat tapi bisa dua atau tiga tanaman. Misalnya kita tumpang sari antara padi dan jagung, atau padi-jangung-kedelai. Itu semuanya memberikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat kita bahwa mereka bisa mengolah lahan bisa menanam dua atau tiga komoditi,” kata Kadishangpang Hortikan, John Hendri.

Tumpang sari, kata John, akan lebih menghemat lahan, biaya dan tenaga kerja. Dengan menghemat luasan lahan, pembukaan lahan pun dapat dikurangi.

“Sehingga pelan-pelan Karhutla ini bisa berkurang. Jadi tidak lagi membakar lahan untuk padi, jagung dan sebaginya,” ujar John.

John mengakui jika sistem tumpang sari memang sudah ada sejak dulu. Hanya saja, masih belum tertata. Yang ditawarkan Dishangpang Hortikan adalah tumpang sari yang lebih teknis.

“Jadi kalau lajur padi itu misalnya dua meter sampai panjang itu padi semua. Kemudian lajur berikutnya, jagung semua. Selama ini kan dimana jagung, dimana padi, tidak terlihat. Itupun sekadarnya,” ungkap John.

Selain itu, pihaknya bekerjasama dengan TNI/Polri serta stakeholder lainnya, terus menerus menyosialisasikan kepada kelompok-kelompok tani. Kalaupun harus membuka lahan dengan cara membakar, harus betul-betul diawasi. Harus pula melaporkan kepada pihak keamanan di tingkat desa dan kecamatan.

“Kita juga sudah mensosialisasikan agar masyarakat segerah berpindah dari berladang ke bersawah. Walaupun saat ini sawah dilanda kekeringan. Kalaupun tetap berladang, kita sarankan untuk menggunakan benih unggul yang tahan terhadap kemarau,” kata dia.

Seperti diketahui musim kemarau berbarengan dengan musim tanam padi bagi para petani di Kabupaten Sanggau.

“Kita kan ada dua musim tanam. Dari Oktober 2018-Maret 2019 itu disebut dengan musim rendengan. Masuk April-September disebut musim gadu. Identik dengan musim kering,” terangnya.

Hanya saja, lanjut John, musim kering di Sanggau tak sama dengan di pulau Jawa. John menyebutnya dengan kemarau basah.

“Artinya dalam satu bulan pasti ada hujan. Beda dengan di pulau Jawa, yang tanahnya sampai merekah, sehingga mereka sulit bercocok tanam,” terangnya.

Untuk antisipasi tehadap kekurangan air bagi para petani, Dishangpang Hortikan membantu dengan mengadakan pompa air dan sumur bor.

Contohnya di Desa Tunggal Bhakti, Kecamatan Kembayan, ada kita bantu untuk mengaliri lahan. Idealnya satu sumur bor itu untuk dua hektar. Walaupun itu masih kurang. Artinya kita tidak bisa membiarkan petani. Apayang harus kita buat, kita buat untuk masyarakat,” bebernya.

Untuk kekeringan terparah, kata John, biasanya di daerah-daerah yang banyak memiliki lahan sawit. “Seperti di Kecamatan Mukok. Tapi pompa air disana sudah ada. Hasil swadaya masyrakat. Kalau yang kita bantu itu seperti Kembayan, Tahan Hilir, Batang Tarang,” pungkasnya. (Ram)

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Kejaksaan Negeri Sanggau Eksekusi Dua Terpidana Kasus Program Peremajaan Sawit Rakyat KUD Sinar Mulia

  KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau melakukan eksekusi pada dua terpidana dalam kasus penyimpangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *