
KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Peringatan Hari Kartini merupakan momentum meningkatkan peran serta kaum perempuan di berbagai bidang. Mirisnya, kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Sanggau masih saja terjadi.
Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DINSOSP3AKB) Kabupaten Sanggau mencatat terjadi 30 kasus terhadap perempuan di tahun 2025.
Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena mengakui hal tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemda Sanggau. Padahal, kata Susana, generasi yang sehat ada di tangan ibu yang hebat.
“Saya atas nama Wakil Bupati sangat merasa terpanggil, sehingga kejadian-kejadian terhadap anak dan perempuan bisa kita atasi ke depan, melalui edukasi-edukasi melalui program pemberdayaan juga melalui organisasi-organisasi perempuan,” kata Susana, Selasa (21/04/2026)
Susana menduga kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan kerap dipicu persoalan ekonomi. Hal tersebut akan berdampak pada gizi, pola makan dan pola asuh terhadap anak. Selain itu, pengaru kemajuan teknologi informasi juga tak bisa disepelekan.
“Terjadi kekerasan terhadap anak, ini mungkin juga ada kaitannya dengan kemajuan teknologi. Ibu-ibu harus bisa membatasi penggunaan teknologi. Artinya pergaulan di sekitarnya berdampak. Kalau kita lihat justru pengetahuan anak-anak banyak melalui media online. Ini juga PR bagi kami. Nanti akan kita lakukan kajian dan evaluasi,” bebernya.
Untuk mencegahnya, Pemda Sanggau terus melakukan sosialisasi mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.
“Tentu ini tidak mudah. Apalagi di data kita tahun 2025 jumlah anak putus sekolah itu tinggi. Ini menjadi perjuangan kita, bersama pemerintah pusat. Termasuk juga pernikahan anak. Ini juga berpengaruh,” tutupnya. (Ram)
Kalimantan Today Tajam | Terpecaya