
KALIMANTANTODAY, SANGGAU. Acara Gawai Adat Nosu’ Minu Podi XII Kabupaten Sanggau resmi dibuka Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, Senin (07/07/2025) di rumah Dori’ Mpulor.
Acara dengan tema “Dayak Bersahabat untuk Berkelanjutan” tersebut digelar selama tiga hari hingga Rabu (09/07/2025). Pembukaan gawai tahunan itu juga dihadiri bupati/wali kota se-Kalimantan Barat serta Forkompimda.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau yang juga Bupati Sanggau, Yohanes Ontot dalam sambutannya mengingatkan generasi muda Dayak untuk terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu.
“Harus mampu menggali, menjaga, memelihara budaya dan adat istiadat. Apabila Dayak tidak melakukan itu, maka Dayak akan hilang. Karena jati dirinya sudah hilang. Karena banyak yang masa bodoh. Saya berharap jangan masa bodoh. Orang Dayak identitas jelas. Walaupun ada macam-macam namanya, tapi tetap Dayak,” katanya.
Ontot juga mengingatkan, tantangan paling berat yang akan dihadapi ke depan yaitu narkoba. Baginya peredaran narkoba adalah bentuk upaya menghancurkan generasi Dayak dan Indonesia secara umum.
“(Pecandu) Narkoba itu sudah mati sebelum mati. Yang terpapar itu dia tidak akan bisa lagi berbuat apa-apa. Lupa jati dirinya. Apa pun dia tidak tahu,” ungkapnya.
Karenanya ia berharap seluruh elemen masyarakat Dayak bersama-sama menjaga generasi muda Dayak. Menjaga generasi muda Dayak mampu bersaing dengan suku-suku lain. Berdikari di bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi.
“Oleh karenanya jaga persatuan dan kesatuan antara kita. Jangan keroyok mengeroyok,” tegasnya.
Pemuntuh Agung DAD Kabupaten Sanggau, Paolus Hadi juga meminta generasi muda untuk menjaga tanah, budaya dan adat istiadatnya. Anggota DPR RI Komisi IV ini juga meminta mengungkapkan tantangan global ke depan.
“Sebagai orang yang dituakan saya ingin sampaikan pada generasi muda Dayak adalah kita ada penerus tanah kita. Kita adalah penguasa adat yang sudah turun temurun leluhur kita,” kata Paolus Hadi.
“Hari ini tantang global masih luas. Yang ingin saya katakan sekolah jangan kita lupa, tapi pergaulan yang lebih luas adalah tantangan untuk kita. Mari berkarya terus, generasi muda Dayak. Jaga terus kebersamaan kita,” pesan mantan Bupati Sanggau ini.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan mengakui Provinsi Kalimantan Barat masih miskin. Ia juga meminta perusahaan harus mampu menyejahterakan masyarakat Kalbar.
“Banyak masyarakat yang menyampaikan aspirasinya, proposalnya. Ini adalah indikator kemiskinan di Kalimantan Barat. Kita kaya, tapi miskin. Kita kaya tapi infrastruktur hancur. Jadi kalau saya lihat Papua seperti itu, Aceh seperti itu saya bisa memaklumi. Di depan pemerintah pusat saya juga sering bicara,” ujar Krisantus Kurniawan.
Pada kesempatan itu, politisi PDI Perjuangan tersebut juga mengkritik terkait indikator dana transfer dari pemerintah pusat ke daerah. Ia mengatakan besaran dana transfer lebih dominan ditentukan jumlah penduduk.
“Saya protes program Keluarga Berencana (KB), salah satunya saya protes terhadap rumus terhadap transfer daerah. Karena lebih dominan ditentukan dengan jumlah penduduk. Padahal logikanya, semakin luas wilayah semakin berat biaya pembangunan,” ungkap Kris, sapaan Krisantus Kurniawan. (Ram)